Biaya Izin Tinggal Tetap di Jepang Naik hingga 200.000 Yen!? Masih Layak untuk Bertahan?

Q: Biaya izin tinggal di Jepang akan naik mulai Oktober. Apakah benar-benar sepadan membayar biaya setinggi itu untuk tinggal di Jepang?
Belakangan ini terdengar kabar bahwa biaya izin tinggal di Jepang akan naik. Bahkan biaya pengajuan izin tinggal permanen (eijuuken) yang semula 10.000 yen disebut akan melonjak hingga 200.000 yen. Dengan biaya setinggi itu, apakah masih sepadan untuk tinggal di Jepang?
A. Kalau ingin tinggal di Jepang mau tidak mau harus membayar. Tapi jujur, biayanya cukup memberatkan…
Berdasarkan rancangan peraturan pemerintah yang diumumkan oleh Badan Layanan Imigrasi Jepang pada 3 Juli, biaya yang berkaitan dengan status izin tinggal bagi warga negara asing dijadwalkan naik mulai Oktober 2026 sebagai berikut.
Perubahan Biaya Izin Tinggal
(Revisi Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Imigrasi Jepang Pasal 25 Ayat 1)
| Jenis permohonan | Biaya saat ini | Rencana Tarif Baru (Mulai Oktober 2026) |
|---|---|---|
| Perubahan Status Izin Tinggal / Perpanjangan Masa Tinggal | Pengajuan di loket: 6.000 yen Pengajuan online: 5.500 yen | Masa berlaku hingga 3 bulan: • Loket/Online: 10.000 yen Masa berlaku 3–6 bulan: • Loket: 18.000 yen • Online: 15.000 yen Masa berlaku 6 bulan–1 tahun: • Loket: 25.000 yen • Online: 21.000 yen Masa berlaku 1 tahun: • Loket: 33.000 yen • Online: 27.000 yen Masa berlaku 1–3 tahun: • Loket: 48.000 yen • Online: 42.000 yen Masa berlaku 3–5 tahun: • Loket: 64.000 yen • Online: 55.000 yen Masa berlaku 5 tahun atau lebih: • Loket: 75.000 yen • Online: 65.000 yen |
| Izin tinggal permanen (Permanent Residence) | 10.000 yen | 200,000 yen |
*Referensi: Situs Resmi Kementerian Hukum Jepang
(https://www.moj.go.jp/isa/content/001465375.pdf)
Menanggapi berita ini, berikut pendapat staf Indonesia di Japan View yang tinggal di Jepang.
Beban semakin berat bagi pekerja dengan gaji rendah
Bagi pemegang visa Gijinkoku dengan penghasilan yang relatif tinggi, kenaikan biaya ini mungkin tidak terlalu berdampak. Namun, bagi pekerja Ginou Jisshuusei atau Tokutei Ginou, biaya 6.000 yen yang berlaku selama ini pun sebenarnya sudah cukup berat, apalagi nilai yen sedang melemah, otomatis uang yang bisa dikirim ke kampung halaman berkurang. Kalau ditambah beban biaya ini, situasinya jadi makin sulit.
Kehidupan bagi mahasiswa internasional akan semakin sulit
Mahasiswa asing punya batas jam kerja paruh waktu (arubaito), yaitu maksimal 28 jam per minggu, jadi keuangan mereka pasti pas-pasan. Dalam kondisi seperti ini, skema tarif baru yang justru membebankan biaya lebih besar pada masa tinggal yang pendek akan membuat kendala belajar di Jepang jadi semakin tinggi.
Rasanya kami hanya dianggap sebagai mesin…
Jepang membutuhkan tenaga kerja, sehingga mengundang warga asing untuk bekerja. Kami telah bekerja dengan baik dan memenuhi kewajiban membayar pajak. Namun, biaya perpanjangan status izin tinggal justru melonjak begitu tinggi. Apakah kami hanya dipandang sebagai “mesin uang”?
Kami sudah mematuhi aturan. Mengapa tetap kami yang harus membayar?
Salah satu alasan kenaikan biaya ini disebut untuk mendanai “Zero Illegal Residents Plan”, yaitu kebijakan pemerintah Jepang untuk memulangkan warga asing yang tinggal secara ilegal. Sebagai orang yang selalu mematuhi aturan dan menjalani hidup dengan tertib, kami merasa tidak adil jika harus ikut menanggung biaya kebijakan tersebut.
Biaya naik, tetapi layanan imigrasi tetap lambat
Pemerintah menyebutkan bahwa biaya administrasi yang dibayarkan pemohon akan digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Namun, antrean panjang di kantor imigrasi masih belum juga berkurang, dan proses pengurusan izin tinggal sering kali memakan waktu hingga berbulan-bulan. Jika biayanya memang dinaikkan, kami berharap proses administrasinya juga bisa menjadi jauh lebih cepat.
Kesimpulan dari suara hati warga asing di Jepang
Meski sudah bekerja keras di Jepang, kami merasa seolah tidak benar-benar dihargai. Bahkan, ada teman saya yang berkata, “Saya sebenarnya ingin menetap secara permanen di Jepang, tetapi kalau biayanya semahal ini, saya harus mempertimbangkannya kembali.” Meski begitu, pada akhirnya kami tidak punya pilihan selain membayar biaya yang lebih mahal demi mempertahankan pekerjaan dan kehidupan yang sudah dijalani di Jepang.

Indonesia