April 27th, 2026

Acara Pertukaran Internasional Melalui Budaya Retro Jepang “Kamishibai Sepeda” Hadir di Edogawa!

Pada 18 April, sebuah pertunjukan “Kamishibai Sepeda” telah diadakan di ruang komunitas Panti Wreda Izumi yang dikelola oleh lembaga kesejahteraan sosial Jiseikai.

Acara ini diselenggarakan oleh OGWP (Ozora Global Work Plus), lembaga pendukung terdaftar yang bergerak di bidang penyaluran tenaga kerja asing berketerampilan khusus (Tokutei Ginou) asal Indonesia. Melalui pertujukan “Kamishibai Sepeda” (pertunjukan cerita bergambar di atas sepeda), acara ini bertujuan untuk menumbuhkan persahabatan lintas generasi dan kewarganegaraan di antara pengguna fasilitas, warga lokal, dan staf Indonesia yang bekerja di daerah tersebut.

Selain pertunjukan kamishibai oleh “Kamishibai-shi Senbei”, pendongeng yang juga mengelola toko dagashi di Mitaka Tokyo sambil berkeliling mengadakan pertunjukan di berbagai daerah, turut mengadakan workshop membuat “kamishibai 4 panel” serta bazaar penjualan jajanan jadul Jepang yang penuh nostalgia pada hari tersebut.

Pendongeng, Kamishibai-shi Senbei

“Kamishibai” Hadirkan Senyuman di Wajah Penonton dari Berbagai Negara

Sekitar 30 orang menghadiri acara tersebut, termasuk pengguna fasilitas, warga lokal, dan warga asing yang bekerja di Distrik Edogawa. Suasana menjadi meriah ketika seruan lantang dan tepukan alat kayu khas seorang pendongeng kamishibai profesional bernama Senbei-san menggema di lokasi acara.

Di awal acara, digelar kuis tanya-jawab yang menyajikan teka-teki dengan humor khas bahasa Jepang, seperti “prefektur apa yang muncul setelah frasa ‘subette koronde’ (すべって転んで)?” (jawabannya adalah Prefektur Oita). Penonton yang menjawab dengan benar mendapatkan hadiah stiker bergambar karakter anime atau cincin mainan ala toko dagashi, sehingga suasana menjadi makin dengan para penonton yang berlomba-lomba menjawab penuh antusias.

Ketika suasana mencapai puncaknya, pertunjukan utama pun dimulai dengan cerita orisinal berjudul “Ano Hi no Yūhi no Hi”. Kisah ini menggambarkan suasana kamishibai sepeda pada masa lalu, memperlihatkan bagaimana kamishibai menjadi hiburan terbesar bagi anak-anak di zaman Showa. Pertunjukan ini membangkitkan nostalgia bagi generasi yang pernah mengalaminya, sementara bagi anak muda asing, menjadi kesempatan untuk mengenal budaya Jepang yang mungkin belum pernah mereka temui.

Di awal cerita, ada interaksi unik ketika gadis kecil sang tokoh utama diberi nama dari salah satu penonton, dan nama staf asal Indonesia pun dipilih. Lalu, pada momen paling seru ketika “Ogon Bat” atau “The Golden Bat” muncul, seluruh penonton ikut berseru memanggil nama sang superhero zaman Showa tersebut. Tanpa memandang usia maupun kewarganegaraan, para penonton tampak larut dalam dunia cerita yang ditampilkan.

Tokoh utama dalam cerita adalah gadis berbaju merah polkadot
Staf asal Indonesia yang namanya terpilih tampak sedikit malu

Setelah pertunjukan, “kerupuk saus” yang dijual oleh Paman Pendongeng yang diceritakan dalam “Ano Hi no Yūhi no Hi” benar-benar dibagikan kepada penonton. “Kerupuk saus” (senbei sōsu) adalah camilan pokok yang penting untuk pertunjukan kamishibai sepeda, yang dijual oleh pendongeng sebelum dan sesudah pertunjukan.

Saat membagikan camilan, pendongeng bahkan menggambar potret sang penerima menggunakan saus senbei. Mereka yang menerima kerupuk terlihat sangat menikmati, bahkan berfoto selfie dan berseru, “ini persis seperti saya!”. Bagi mereka yang tidak bisa memakan kerupuk, mereka diberi katanuki (permainan cetakan permen) dengan hadiah untuk cetakan yang berhasil.

Seorang penonton asal Indonesia yang pertama kali mengikuti kamishibai berkomentar, “Saya tidak tahu apa itu kamishibai, tetapi ternyata sangat menarik karena ceritanya seperti anime. Ada bagian-bagian yang membuat kami semua tertawa dan berteriak bersama, itu sangat menyenangkan!”

Diadakan Juga Workshop Kamishibai 4 Panel dan Bazaar Camilan Jadul Jepang

Usai pertunjukan, acara berlanjut dengan workshop pembuatan kamishibai bagi penonton yang ingin berpartisipasi. Para peserta membuat dan mempresentasikan “kamishibai empat panel (4コマ紙芝居)”, menunjukkan bahwa bahkan mereka yang tidak pandai menggambar pun dapat menciptakan karya hanya dengan mewarnai dan menggambar garis.

Para peserta menggambarkan hobi, impian masa depan, dan rutinitas harian dengan gaya uniknya masing-masing. Peserta lain menikmati presentasi tersebut, memberikan komentar seperti, “gambar ini tentang apa?” dan “ceritanya unik!”

Bahkan ada yang mempresentasikan karya dengan bahasa Jepang yang baru saja mereka pelajari!

Acara diakhiri dengan penjualan camilan jadul Jepang yang menarik banyak orang untuk membeli, terutama staf perawatan yang bekerja di fasilitas tersebut. Beberapa orang mengobrol sambil memegang jajanan nostalgia, sementara staf Jepang membeli banyak jajanan dan ingin memberikan sebagian kepada staf Indonesia sebagai oleh-oleh.

Para staf yang menikmati kerupuk saus dan jajanan tradisional Jepang.

Acara ini menjadi kegiatan pertama bagi OGWP, sebagai ajang banyak orang berkumpul dengan senyuman melalui budaya “Showa Retro” Jepang Kamishibai Sepeda.

Artikel Terkait