Ciptakan “Ruang Komunitas” Dalam Kelas ―Studi Kasus Kelas Bahasa Jepang di Kota Fuefuki, Yamanashi
Hingga akhir Juni 2025, terdapat 24.392 orang asing yang tinggal di Prefektur Yamanashi. Jumlah penduduk di seluruh wilayah prefektur terus mengalami penurunan, namun jumlah penduduk asing meningkat dari tahun ke tahun dan semakin dipandang sebagai keberadaan yang penting untuk menopang daerah serta industri di masa depan.
Prefektur Yamanashi telah melaksanakan “Program Promosi Pendidikan Bahasa Jepang Regional Prefektur Yamanashi” sejak tahun 2020 demi menciptakan lingkungan yang aman untuk penduduk asing, seperti memberikan dukungan operasional kelas bahasa Jepang yang diselenggarakan oleh pemerintahan kota.
Saat ini, pemerintah kota yang mendapatkan dukungan dari prefektur untuk membuka kelas bahasa Jepang ada sembilan kota, termasuk Kofu, Otsuki, Yamanashi, dan Nirasaki. Kali ini, kami meliput contoh kasus dari program pendidikan bahasa Jepang yang telah diadakan di Kota Fuefuki.

この記事の目次
Lewat Pembelajaran Bahasa Jepang, Warga Bisa Menjadi ‘Tetangga’ Satu Sama Lain
Kelas bahasa Jepang di Kota Fuefuki diselenggarakan di Balai Kota Fuefuki setiap hari Senin per minggu. Berfokus pada pengembangan kemampuan “mendengar dan berbicara”, pembelajaran berbasis aktivitas diterapkan sehingga peserta dapat menggunakan bahasa Jepang secara aktif melalui dialog dan kerja kelompok.
Berdasarkan program pendidikan bahasa Jepang yang dikembangkan oleh Prefektur Yamanashi, setiap sesi berfokus pada bahasa Jepang yang penting untuk kehidupan sehari-hari, termasuk cara bepergian dengan bus dan kereta api, peraturan lalu lintas, dan kesiapan menghadapi bencana seperti topan dan gempa bumi. Tergantung pada permintaan para peserta, pembelajaran juga bisa mencakup pengalaman upacara minum teh atau mempelajari sejarah Yamanashi.
| Kurikulum Kelas Bahasa Jepang Kota Fuefuki Tahun Ajaran 2025 (kutipan) | |
|---|---|
| Pertemuan ke-1 | Orientasi |
| Pertemuan ke-2 | Mengenal lingkungan tempat tinggal |
| Pertemuan ke-3 | Pergi ke destinasi (pergi ke luar kota) |
| Pertemuan ke-4 | Persiapan bencana angin topan dan gempa bumi |
| Pertemuan ke 5-7 | Merencanakan dan melaksanakan kegiatan: berpartisipasi dalam rekonstruksi Sejarah Pertempuran Kawanakajima Sengoku Emaki |
Tidak hanya pengajar bahasa Jepang yang bertugas memberikan pembelajaran, sukarelawan warga sekitar yang disebut sebagai “Partner” juga ikut bergabung. Mereka tidak berperan sebagai pengajar bahasa Jepang secara profesional, melainkan berdialog menggunakan bahasa Jepang bersama warga asing demi menciptakan komunitas yang nyaman untuk ditinggali, sambil memikirkan potensi serta tantangan yang ada di daerah tersebut.
Berdasarkan masing-masing prefektur, semua orang bisa bergabung menjadi Partner tanpa perlu memiliki kualifikasi, tidak terbatas pada usia dan pengalaman, serta memiliki kemampuan berbahasa asing. Karena berbagai hal tersebut, banyak orang yang melamar posisi ini dengan alasan seperti “Ingin mengenal banyak orang” atau “Saya memiliki kolega asing di tempat kerja dan ingin memperdalam pemahaman tentang mereka”.
Reiko Furuya dari Asosiasi Pertukaran Internasional Prefektur Yamanashi yang mendukung operasional kelas tersebut berkata, “Orang Jepang tidak mengajarkan bahasa Jepang secara sepihak saja, tapi kami berharap kelas ini akan menjadi tempat belajar budaya dan cara berpikir satu sama lain melalui bahasa Jepang. Saya berharap kelas ini mendorong orang-orang tidak lagi melihat mereka sebagai ‘warga asing’, melainkan sebagai ‘tetangga di lingkungan kita’.”
Saat ini, tercatat sudah ada 73 warga asing yang mendaftar menjadi pelajar (data per 15 Januari 2026). Diawali dengan orang Indonesia, lalu disusul oleh warga negara Amerika, Inggris, Thailand, dan Tiongkok yang bergabung dengan berbagai tujuan, seperti ingin berbicara dengan orang Jepang atau ingin mahir berbicara dalam bahasa Jepang.
Topik Awal Tahun Adalah “Hal yang Dilakukan Saat Tahun Baru”!
Kelas pertama tahun ini diadakan pada tanggal 18 Januari. Pada hari itu, terdapat 30 orang yang bergabung dan mengadakan kerja kelompok dengan tema “hal yang dilakukan saat Tahun Baru”.








Membuka Kesempatan Mengikuti Festival Daerah dan Menjalin Pertemanan
Terakhir, kami menanyakan kesan dari tiga orang Indonesia yang bergabung di dalam kelas kali ini.
Diki : Nama saya Diki, berasal dari Bandung, Jawa Barat. Saya bercita-cita untuk bekerja di Jepang karena menyukai anime sejak kecil. Saya datang ke Jepang sebagai pemagang teknis pada bulan Juli 2024, kini sedang dalam status (visa) Tokutei Katsudo karena sedang menunggu pergantian visa Tokutei Ginou untuk bekerja di bidang pertanian.

Fin : Nama saya Fin, berasal dari Trenggalek, Jawa Timur. Saat terpikirkan untuk bekerja di luar negeri, saya memutuskan untuk bekerja di Jepang setelah mendengar kesan dari teman kalau kerja di Jepang gajinya tinggi dan pemandangannya indah. Saya datang ke Jepang bulan Juli tahun lalu dan bekerja di tempat yang sama seperti Diki.

Daru : Nama saya Daru, berasal dari Madura, Jawa Timur. Demi menafkahi keluarga, saya berpikir untuk bekerja di luar negeri. Dari berbagai pilihan negara, saya memilih Jepang karena merupakan negara maju yang tertib dan aman. Saya datang ke Jepang bulan Maret tahun lalu sebagai pemagang teknis dan bekerja di bidang tobi (pemasangan scaffolding).

Diki : Kami bertiga sudah mengikuti kelas sejak tahun ajaran ini. Saya memutuskan untuk bergabung setelah seorang kolega senior asal Brasil di perusahaan yang sama merekomendasikan saya untuk bergabung dengan kelompok belajar yang mengajarkan bahasa Jepang secara gratis.
Fin : Saya bergabung sejak September tahun lalu setelah Diki mengajak saya untuk belajar bersama.
Daru : Hampir sama seperti Fin, saya bergabung setelah diperkenalkan oleh senior orang Jepang di perusahaan. Awalnya, saya agak malu bertemu dengan orang baru, hahaha. Tapi begitu pelajaran dimulai, rasanya menyenangkan sehingga saya menjadi percaya diri untuk berbicara dalam bahasa Jepang. Saya juga dapat mempelajari budaya dari negara lain karena banyak pelajaran yang bertemakan kebiasaan dan budaya negara masing-masing.
Diki : Di tengah sesi berbagi cerita budaya masing-masing, kami jadi berteman dan saling bertukar kontak LINE. Saya jadi bisa belajar kanji dan tata bahasa karena sering mengirimkan pesan menggunakan bahasa Jepang. Karena banyak orang dengan kemampuan bahasa Jepang yang kurang lebih sama, belajar bersama membuat kami jadi lebih percaya diri dan merasa bisa berbicara bahasa Jepang juga. Menurut saya, itu yang menjadi daya tarik dari kelas ini.
Fin : Tidak hanya belajar bahasa Jepang, saya senang karena juga bisa mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam matsuri atau festival daerah. Yang paling berkesan adalah saat bisa ikut ‘Kawanakajima Kassen Sengoku Emaki’, acara utama Festival Musim Gugur Kota Fuefuki. Kami memakai baju samurai sambil berteriak “Oraa!” atau “Ei ei oo!” yang membuat saya benar-benar merasakan suasana Zaman Sengoku.
Diki : Itu juga hal yang paling menyenangkan bagi saya! Baju samurainya mirip pendekar yang sering muncul di anime, jadi kelihatan keren sekali. Kalau tidak datang ke kelas bahasa Jepang ini, mungkin saya bahkan tidak akan tahu kalau ada acara seperti ini.


Sumber gambar: Kelas Bahasa Jepang Kota Fuefuki.
Daru : Saya tidak ikut ke dalam acara karena membantu di stan makanan yang dibuka oleh kelas. Namun, membantu yang lain juga tidak kalah seru! Karena saya jarang ikut serta dalam acara lokal, festival kali ini menjadi pengalaman yang berharga bagi saya.


Sumber gambar: Kelas Bahasa Jepang Kota Fuefuki.
Diki : Saya bisa mendapatkan banyak pengalaman di kelas ini, dan berencana untuk ikut kelas ini lagi tahun depan karena kali ini saya ingin meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. Sepertinya nanti akan belajar dengan peserta yang berbeda lagi, jadi saya juga ingin berteman dengan peserta baru.
Daru : Saya juga. Selain karena tahun depan saya masih berada di Jepang, saya ingin mempelajari bahasa Jepang lebih dalam karena akan sulit menjalani kehidupan sehari-hari atau bekerja jika tidak bisa bahasa Jepang.
Fin : Saya ingin ikut lagi kalau ada kesempatan, karena saya mungkin tidak akan mengenal budaya lokal Prefektur Yamanashi maupun budaya tradisional Jepang jika tidak ikut kelas ini. Namun, masa kerja magang saya sebentar lagi selesai sehingga harus segera mencari pekerjaan di Kota Fuefuki setelah lulus ujian Tokutei Ginou. Karena masih mau belajar bersama yang lain, saya harus berusaha dalam belajar dan bekerja!

Kontak untuk pertanyaan terkait kelas bahasa Jepang di Prefektur Yamanashi: y-nihongo@yia.or.jp
Penanggung jawab: Reiko Furuya
(Asosiasi Pertukaran Internasional Prefektur Yamanashi, Koordinator Umum Pendidikan Bahasa Jepang Regional Prefektur Yamanashi)
Indonesia