Tangani Shift Malam Meski Tanpa Pengalaman, Berkomitmen Raih JLPT N1 dan Kaigofukushishi
Lulus JLPT N3 Berkat Belajar Mandiri Melalui Situs Video dan Drama Jepang
Datang ke Jepang pertama kali sebagai pemagang teknis pada usia 19 tahun, Khoriyah bekerja membuat sabuk pengaman kendaraan di sebuah pabrik suku cadang otomotif yang terletak di Prefektur Saga. Pada saat itu, ia memiliki keinginan untuk memperoleh lebih banyak keahlian dan pengetahuan di Jepang, sehingga ia memutuskan untuk terus bekerja di Jepang sebagai Tokutei Ginou atau pekerja berketerampilan khusus.
“Seorang teman akrab yang bekerja sebagai caregiver mengatakan kepada saya, ‘meski menuntut banyak menggunakan tenaga fisik, senyum pengguna layanan membuat pekerjaan ini sangat memuaskan’, jadi saya berpikir untuk memilih bidang pekerjaan kaigo atau caregiver saat ujian SSW.”
Bekerja di pabrik membuat kesempatan berkomunikasi dalam bahasa Jepang menjadi terbatas, sehingga Khoriyah belajar mandiri dengan menonton video pembelajaran bahasa Jepang di Youtube dan drama Jepang. Ia mendapatkan sertifikasi Tokutei Ginou sebagai caregiver pada Januari 2024 dan lulus JLPT N3 pada bulan Juli di tahun yang sama. Setelah kontraknya sebagai pemagang teknis selesai pada Juni 2025, ia diperkenalkan oleh OGWP (Ozora Global Work Plus) dan bekerja sebagai Tokutei Ginou di Izumi Special Nursing Home milik Social Welfare Corporation Jisekai yang terletak di daerah Edogawa sejak bulan Juli.

Rahasia Cepat Kuasai Pekerjaan: Tinjau Ulang Tiap Hari Selama 1 Jam
Meskipun tidak memiliki pengalaman, Khoriyah telah dipercaya melakukan pekerjaan shift malam hanya dalam waktu tiga bulan. Shimada Yosuke, penanggung jawab pekerja asing di fasilitas yang sama itu terkejut dan mengungkapkan bahwa ini pertama kalinya melihat seorang tanpa pengalaman sebelumnya dipercayakan dengan pekerjaan shift malam dalam waktu singkat. Khoriyah menjelaskan metode yang ia lakukan agar bisa menguasai pekerjaannya dengan cepat.
“Setelah pulang ke rumah, saya menggunakan waktu satu jam setiap harinya untuk meninjau kembali. Saya mencatat hal-hal yang tidak saya pahami ketika bekerja dan cara para senior melakukan pekerjaan, lalu meninjaunya di hari yang sama. Dalam pekerjaan keperawatan, bahasa Jepang amat sangat penting untuk berkomunikasi dengan pengguna layanan atau melakukan serah terima pekerjaan dengan sesama karyawan, sehingga belajar bahasa Jepang adalah sebuah kewajiban. Khususnya huruf kanji, yang tidak begitu sering saya gunakan di tempat kerja sebelumnya, kini menjadi hal terpenting karena harus melakukan pencatatan dan serah terima informasi antar karyawan.”

Meskipun terkadang merasa bingung karena berada di industri yang belum ia kenali, Khoriyah bersikap optimis dan mengatakan, “Setiap pekerjaan tentu memiliki bagian yang sulit. Saya tidak merasa terbebani dengan pekerjaan ini, justru saya merasa termotivasi.” Dengan hidup seorang diri, menghabiskan waktu dan berinteraksi dengan para pengguna layanan menjadi salah stau kesenangannya setiap hari.

Ingin Tingkatkan Kemampuan Bahasa Jepang dengan Mengikuti JLPT N2 dan N1
Saat ini, Khoriyah berupaya untuk mendapatkan kualifikasi kaigofukushishi demi bisa bekerja di Jepang dalam jangka waktu lama. Ia sudah mengikuti JLPT tingkat N2 dan sedang menunggu hasilnya. Di masa depan, ia berharap bisa lulus JLPT N1 dan mencapai level mampu mengajar bahasa Jepang.
Terakhir, ia memiliki pesan untuk anak-anak muda Indonesia yang ingin bekerja di Jepang.
“Terlepas dari industri apapun, semua pekerjaan memiliki tantangan dan kesulitannya masing-masing. Banyak menggunakan huruf kanji dan menguasai berbagai hal tentu saja tidak mudah. Namun, semakin keras usaha yang dilakukan akan semakin dekat pula dengan tujuan, seperti mendapatkan kualifikasi kaigofukushishi atau menjadi Tokutei Ginou no. 2, kemampuan bahasa Jepang juga meningkat, dan semua hal tersebut berkontribusi dalam perkembangan diri. Jangan takut menghadapi hal yang belum pernah dialami atau yang belum diketahui, dan beranilah menantang pekerjaan yang ingin Anda lakukan dan keterampilan yang ingin Anda kuasai.”

Indonesia