Proyek Pesawat Bertenaga Manusia Nihon University, Pelajar Internasional Bisa Ikutan Juga,  Lho!
2023.07.06 up

Proyek Pesawat Bertenaga Manusia Nihon University, Pelajar Internasional Bisa Ikutan Juga,  Lho!

Pesawat terbang menjadi moda transportasi yang sangat penting bagi Indonesia, yang terdiri dari 17 ribu pulau. Perusahaan negara seperti Dirgantara Indonesia dan Garuda Indonesia menjadi perusahaan yang sangat terkenal di Indonesia.

Baik di Indonesia maupun di Jepang, impian untuk terbang di angkasa menjadi hal yang sama bagi semua orang.

Salah satu adegan legendaris dalam anime dari Studio Ghibli, “Kiki’s Delivery Service”, menggambarkan karakter Tombo yang memasang baling-baling di sepedanya agar dapat terbang ke angkasa. Adegan ini menjadi salah satu adegan yang paling diingat oleh penggemar anime ini.

© 1989 Eiko Kadono・Studio Ghibli・N

Di Jepang, terdapat banyak universitas yang “mencoba” untuk menerbangkan manusia dengan pesawat bertenaga manusia. Salah satunya adalah Nihon University, yang telah memiliki sejarah dan prestasi dalam kurun waktu 60 tahun melalui “Proyek Jinryokukuhikouki” yang memiliki arti “Proyek Pesawat Terbang Bertenaga Manusia”, proyek ini diinisiasi oleh Jurusan Teknik Aeronautika, Fakultas Sains dan Teknologi, Nihon University.

Proyek ini juga dapat diikuti oleh pelajar internasional, lho! Bagaimana kalau pelajar muda dari Indonesia juga ikut serta dalam proyek ini, ya?

Tantangan Pesawat Terbang Bertenaga Manusia Pertama dari Jepang

Proyek Pesawat Terbang Bertenaga Manusia pertama kali dimulai oleh Hidemasa Kimura, seorang profesor di Nihon University pada saat itu. Profesor Kimura, yang terlibat dalam perancangan dan penelitian pesawat terbang, mendengar kabar pada tahun 1961 tentang keberhasilan percobaan pesawat terbang bertenaga manusia di Inggris. Kabar tersebut menginspirasi beliau untuk segera merencanakan pengembangan pesawat terbang bertenaga manusia bersama para muridnya.

Profesor Hidemasa Kimura sedang menjelaskan mengenai model pesawat terbang.
(Foto milik Nihon University Fakultas Sains dan Teknologi)

Pada saat itu, mahasiswa menghadapi beberapa kesulitan dalam merancang dan melakukan uji coba model pesawat terbang secara nyata karena konsep “monozukuri” yang menekankan pada keterampilan pembuatan barang masih dianggap kurang cocok untuk lingkungan universitas yang lebih fokus pada aspek akademis. Namun, Profesor Kimura menegaskan bahwa “monozukuri” merupakan hal yang penting dan akhirnya memulai pengembangan pesawat terbang bertenaga manusia sebagai tema tesis untuk mahasiswanya pada tahun 1963.

Akhirnya, setelah menghabiskan waktu selama 3 tahun, pada tahun 1966 Profesor Kimura bersama dengan mahasiswanya berhasil mengembangkan pesawat terbang bertenaga manusia pertama di Jepang yang diberi nama Linnet.

Pesawat terbang bertenaga manusia pertama Jepang, “Linnet”. (Foto milik Nihon University Fakultas Sains dan Teknologi)

Tantangan Rekor

Setelah kesuksesan awal dengan pesawat terbang bertenaga manusia pada tahun 1966, pengembangannya terus dilanjutkan melalui kegiatan Klub Penelitian Aviasi yang didukung oleh Jurusan Teknik Aeronautika Nihon University. Selain itu, studi grup ini juga mengikuti acara “Kontes Toriningen” yang memilki arti kontes manusia burung.

Kontes Toriningen telah diadakan sejak tahun 1977 sebagai ajang kompetisi untuk pesawat terbang bertenaga manusia dalam hal waktu terbang dan jarak terbang. Kontes ini sangat populer dan bahkan ditayangkan di stasiun televisi. Nihon University berhasil memenangkan kontes ini untuk pertama kalinya pada kontes ke-4 pada tahun 1980. Sejak itu, kampus ini telah berpartisipasi dalam 33 kontes dengan 10 kali kemenangan (8 kali dalam kategori pesawat terbang bertenaga manusia dan 2 kali dalam kategori gliding atau meluncur). Rekor ini menjadikan Nihon University sebagai pemegang rekor dengan kemenangan terbanyak. Pada kontes ke-42, seorang mahasiswa dari Nihon University mencetak rekor jarak terbang terpanjang sejauh 38 km, yang hingga saat ini masih belum terkalahkan.

Model pesawat seri Möwe, yang telah banyak memenangkan kontes toriningen (Foto milik Nihon University Fakultas Sains dan Teknologi)

Selain berpartisipasi dalam Kontes Toriningen, kampus ini juga terlibat dalam upaya pemecahan rekor yang secara resmi diakui oleh Fédération Aéronautique Internationale (FAI), sebuah organisasi internasional di bidang aeronautika/aviasi. Pada tahun 2005, kampus ini berhasil mencetak rekor resmi Jepang untuk kategori penerbangan lurus sejauh 49,2 km. Selanjutnya, pada tahun 2014, kampus ini juga mencoba memecahkan rekor untuk penerbangan keliling, namun sayangnya upaya tersebut belum berhasil.

Dengan sejarah panjang dan sejumlah riwayat kemenangan dalam kontes, tidak mengherankan bahwa Nihon University dianggap sebagai tempat nya pengembangan pesawat bertenaga manusia.

Potret Profesor Hidemasa Kimura terpampang di papan yang berisikan nama-nama mahasiswa yang telah sukses, sebagai penghormatan dalam perayaan 50 tahun setelah keberhasilan penerbangan pertama pada tahun 1966. (Foto milik Nihon University Fakultas Sains dan Teknologi)

Teknologi dan Harapan Untuk Generasi Selanjutnya

Pada tahun 2020, dampak pandemi virus corona membuat situasi proyek pesawat terbang bertenaga manusia mengalami perubahan drastis. Kontes Toriningen dan produksi rancangan pesawat terbang bertenaga manusia yang dilakukan oleh mahasiswa dibatalkan pada saat itu. Akibatnya, pengetahuan dan teknologi pembuatan pesawat terbang bertenaga manusia yang telah diwariskan dari generasi ke generasi hampir terancam hilang.

Melihat situasi krisis ini, para alumni mulai memberikan dukungan penuh agar sejarah warisan panjang ini tetap terjaga, serta para mahasiswa dapat tetap merasakan kesenangan menerbangkan pesawat terbang mereka sendiri ke angkasa. Di saat yang bersamaan, para mahasiswa, alumni, dan Jurusan Teknik Dirgantara (Aeronautika) bekerja sama untuk mengatasi masalah yang belum terpecahkan oleh para alumni sebelumnya dan tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa saat ini.

“Di tahun pertama saya, kegiatan di kampus sangat terbatas. Pandemi virus ini berlanjut hingga akhir tahun kedua saya, dan selama periode itu, kegiatan di Klub Penelitian Aeronautika juga sangat terbatas.” kata Yuuya Mamada, mahasiswa tahun ke-4 yang saat ini menjadi pilot tim tahun ini. Peran pilot dalam pesawat terbang bertenaga manusia sangatlah penting, karena semua sumber tenaga pesawat berasal dari pilot itu sendiri. 

Yuuya Mamada, pilot pesawat terbang bertenaga manusia tahun ini

Untuk beberapa waktu, Mamada mengalami keterbatasan dalam mengikuti kegiatan yang sangat diinginkannya, yaitu Klub Penelitian Aviasi. Namun, Mamada memiliki tekad yang kuat. Meskipun tidak dapat secara langsung mengikuti kegiatan klub karena pembatasan, Mamada melatih dirinya sendiri secara mandiri dan berhasil terpilih sebagai pilot untuk tim.

Di tahun pertamanya, di selang studi nya, Mamada berlatih sendiri dengan keras untuk menjadi pilot

Sayangnya, proses pembuatan model pesawat terbang mengalami penundaan yang cukup lama. Seharusnya, setelah bergabung dengan Klub Penelitian Aviasi, para mahasiswa akan diajarkan oleh senior mereka mengenai konsep dan teknik pembuatan pesawat. Kemudian, pada musim panas tahun ketiga, mereka akan mulai membuat pesawat terbang mereka sendiri berdasarkan apa yang telah dipelajari. Namun, pada tahun ini, karena adanya keterbatasan, Mamada dan teman-temannya harus menyeimbangkan antara mempelajari teknik pembuatan pesawat dan membuat pesawat mereka secara bersamaan.

“Selama proses pembuatan pesawat bersama teman-teman, saya juga berlatih sebagai pilot. Ini merupakan tugas yang sangat sulit, namun para alumni dan senior sering datang ke lokasi workshop dan terus memberikan dukungan kepada kami. Beberapa dari alumni yang datang sudah berusia antara 40 hingga 50 tahun, dan mereka memiliki banyak pengalaman. Dari hal tersebut, saya menyadari betapa panjangnya sejarah Klub Penelitian Aviasi di kampus ini.” ucap Mamada.

Kokpit tempat Mamada duduk sebagai pilot. Baling-baling akan berputar ketika pedal diinjak.

Di tahun keempatnya, Mamada harus meneruskan pengetahuan dan keterampilannya kepada junior-juniornya. Melalui proses pembuatan dan penerbangan pesawat yang Mamada lakukan sendiri, ia akan mewariskan pengetahuan dan keterampilannya kepada juniornya, sehingga generasi berikutnya juga dapat merasakan pengalaman terbang di angkasa.

Mamada Bersama junior nya mengecek sayap pesawat bersama
Para junior yang membantu Mamada membuat sayap pesawat

Pesona Klub Penelitian Aviasi yang Hanya Dapat Dirasakan di Kampus Ini

Mamada mengatakan bahwa terdapat pesona tersendiri yang hanya dapat dirasakan di klub penelitian aviasi kampus ini.

“Di Klub Penelitian Aviasi, seluruh proses pembuatan model pesawat dilakukan oleh para mahasiswa. Mereka mengembangkan konsep, mendesain, membuat blueprint, dan merakit pesawat sesuai dengan visi mereka. Jepang sering disebut sebagai “Negara Monozukuri” yang berarti negara yang mengedepankan keterampilan pembuatan barang. Di kampus ini, Anda dapat mengalami seluruh proses monozukuri yang terlibat dalam pembuatan pesawat terbang. Hasil kerja keras mahasiswa ini kemudian dapat dipamerkan kepada banyak orang melalui kontes Toriningen. Saya percaya bahwa hanya Nihon University yang mampu melakukannya dengan baik.”

Menghaluskan bagian permukaan sayap pesawat untuk mengurangi gesekan udara
Pemasangan kabel yang menyambungkan transmisi kemudi dari kokpit ke sayap

Pengalaman di Klub Penelitian Aviasi juga dapat diterapkan bahkan setelah lulus dari universitas.

Teknik-teknik yang dipelajari dalam pembuatan pesawat terbang di Klub Penelitian Aviasi dapat diterapkan secara langsung di perusahaan-perusahaan manufaktur pesawat. Banyak alumni yang setelah lulus bekerja sebagai mekanik atau desainer di perusahaan-perusahaan manufaktur pesawat, dan beberapa senior bahkan aktif sebagai pilot. Setelah lulus, saya berencana untuk bekerja sebagai general contractor, dan saya percaya teknik dan semangat monozukuri yang saya dapatkan disini akan berguna kedepannya.” ucap Mamada.


Kontes Toriningen ke-45 akan diadakan pada 29 Juli 2023. Tentunya, Tim Mamada akan ikut serta kontes ini. Mereka memiliki target untuk melampaui rekor jarak terbang 38 km yang dibuat oleh senior mereka, dengan mencapai jarak terbang 40 km.

“Klub Penelitian Aviasi sangat terbuka untuk pelajar internasional. Kami menunggu teman baru untuk bersama-sama membangun pesawat terbang bersama kami!”

Tahun ini merupakan tahun yang istimewa karena memperingati 60 tahun berdirinya Proyek Pesawat Terbang Bertenaga Manusia di Nihon University. Yuk, bersama-sama kita menggapai langit!

Video Perkenalan Klub Penelitian Aviasi Nihon University dalam partisipasi kontes Toriningen tahun lalu
(Sumber:鳥人間コンテスト公式チャンネル

▼Situs Nihon University
https://www.nihon-u.ac.jp/

▼Situs Fakultas Sains dan Teknologi Nihon University
https://www.cst.nihon-u.ac.jp/

▼Situs Jurusan Teknik Aeronautika Nihon University
https://aero.cst.nihon-u.ac.jp/

▼Situs Proyek Pesawat Terbang Bertenaga Manusia
https://aero.cst.nihon-u.ac.jp/students/project/airplane.html